Akuarium Laut

Akuarium Laut

Akuarium Laut adalah online shop yang bergerak di bidang marine reef. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi kami di +62858.7533.6727. 

Secara garis besar untuk memulai membuat akuarium laut yang baik dan benar ada beberapa hal yang perlu kita diperhatikan, yaitu antara lain sbb :

 

1. PENGETAHUAN

Pengetahuan tentang akuarium laut dapat kita pelajari dari buku, internet, teman sehobi yang sudah berhasil, dll. Berikut dibawah ini adalah beberapa pengetahuan yang sangat penting di dalam memulai akuarium yang baik dan benar.

a. Pengetahuan tentang biota yang akan kita pelihara, mengetahui cara bagaimana mereka dapat hidup dan berkembang biak, biota yang berbahaya dan dilarang untuk dipelihara, memilih biota dengan baik dan benar, dsb. 

b. Pengetahuan tentang alat – alat yang akan digunakan, seperti skimmer, reactor, wavemaker, test kit, dsb. 

c. Pengetahuan tentang filtrasi yang akan diterapkan nantinya. Filtrasi adalah jantung dari sebuah ekosistem laut mini ini. Ada 3 jenis filtrasi, yaitu ; Filtrasi Mekanis, Filtrasi Biologi dan Filtrasi Kimia. Untuk filtrasi penggunaannya minimal 2 jenis filtrasi, sehingga dapat maksimal hasilnya dalam mengolah limbah yang dihasilkan oleh biota yang kita pelihara.

d. Pengetahuan tentang pencahayaan yang dibutuhkan untuk biota yang akan kita pelihara. 

e. Pengetahuan tentang aditif yang akan kita pakai dalam memaintanance parameter air laut.

f. Pengetahuan tentang manajemen waktu. Meluangkan  dan menjadualkan waktu untuk memberi makan biota, membersihkan dan mengecek alat – alat, mengganti air, cek parameter, dll.

g. Pengetahuan tentang proses Cycling, daur ulang nitrogen dan mengetahui bagaimana bakteri berperan besar di proses tersebut.

Untuk mempelajari hal – hal tersebut membutuhkan waktu paling tidak 6 bulan sampai 12 bulan . Kuncinya adalah SABAR.

 

2. DANA

Semakin banyak pengetahuan yang kita dapatkan maka semakin kita dapat meminimalisir pengeluaran. Kita butuh dana yang tidak sedikit untuk membentuk akuarium laut yang kita inginkan. Berikut ini list barang yang akan kita beli :

a. Akuarium Utama dan Sump

Semakin besar ukuran akuarium maka semakin besar dana yang  akan kita keluarkan. Pikirkan baik – baik hal ini, sesuaikan dengan dana yang ada.

b. Alat -  Alat Penunjang 

Membeli alat -  alat penunjang seperti pompa, skimmer, wavemaker, test kit, lampu, dll Kita dapat membeli yang buatan pabrik atau home made atau bisa membuat sendiri.

c. Aditif 

Membeli atau membuat sendiri aditif untuk filtrasi, pemeliharaan parameter air, aditif untuk biota, dll.

d. Biota

Membeli biota yang sesuai dengan konsep yang telah kita pikirkan sebelum memulai pembuatan akuarium laut. Belilah biota yang mudah dipelihara, bisa berkembang biak, mudah perawatannya, dsb.

e. Bahan – bahan lainnya

Bahan – bahan lainnya adalah air laut, karang dekor, pasir, dll. Pilih lah air laut yang bagus kualitasnya yang mempunyai parameter ideal, pilih pasir  dan karang sesuai dengan konsep.

 

3. KESABARAN

Setelah semua yang kita butuhkan sudah dapat kita persiapkan maka langkah selanjutnya adalah  SABAR. Sabar dalam memulai prosesnya, butuh waktu yang relatif panjang untuk bisa “ berhasil “ dalam memelihara akuarium laut ini. Proses belajar terus menerus menjadikan kita semakin mengerti tentang hobi ini. 

 

Demikian sedikit info dari saya semoga dapat memberikan sedikit pencerahan bagi yang ingin memulai akuarium laut. Terima Kasih. ☺

 

www.akuariumlaut.com

www.rainreefs.com

 

 

Wednesday, 01 February 2017 12:38

DIY Protein Skimmer

 

Thursday, 26 January 2017 14:20

Additive KCl

Potasium chloride, KCl, is used as the source of potasium to a reef aquarium then the following can be used to make a DIY stock solution. It can also be added as a dry solid, but it has to be pre-mixed before addition to the aquarium and can be harder to measure out. The use of a stock solution gets around both of these problems.
The variables used to make the calculations are as follows: 
M0 = Mass of potasium chloride required to make the stock solution (grams) 
V0 = Volume of stock solution (litre) 
C0 = Potasium concentration of the stock solution (ppm) 
V1 = Volume of stock solution dose to give potasium concentration rise of C1 (cm3) 
V2 = System volume (litre) 
C1 = Potasium concentration rise required in the system (ppm) 
Ca = Fraction of the type of Potasium chloride that is calcium by weight : 0,52441

The value of K depends on the type of Potasium chloride that is used to make up the stock solution. In most cases this will be KCl, so the valve for K in this case is 0,52441.
The concentration of the stock solution, C0, is really arbritary, but the higher the concentration the less of the stock solution has to be added to give a certain system concentration increase. Although the higher the concentration the easier it would be to overdose and cause problems. A good number to start with is around C0 = 100,000ppm, which is the concentration of some commercially available Potasium chloride additives. The mass (M0) of Potasium chloride required to add to the stock solution of volume V0, to give concentration C0 is given by:

M0 = ( C0 * V0 ) / ( Ca * 1000 )

Therefore to get C0 = 100,000ppm stock solution, using KCl, M0 = 190,69049 grams is required to be added to V0 = 1 litre.

The equation to determine the volume (V1, cm3) of the stock solution (concentration C0 ppm) required to increase the system (volume V2, litre) potasium concentration by C2 ppm is as follows:

Cmix = ( V0 * C0 ) + ( V1* C1 ) / ( V0 + V1 )

Therefore to increase the system of V2 = 500 litre ,potasium concentration by C2 = 430ppm, Cmix = 450 ppm, using a stock solution of concentration C0 = 100,000ppm need to added V1 = 100 cc.

Potasium chloride has a very high solubility, with it being possible to pack up to over 1,000,000ppm into water, which is a highly potent solution. Take great care when making up these solutions and adding it to a reef aquarium. It would be very easy to over dose if great care is not taken. Always err on the side of caution, all that will have to be done is to add a little bit more at a later time. This is much better than putting in too much, it cannot be taken out again without having to do a major water change and sustaining some damage to the inhabitants.

Tuesday, 12 April 2016 15:59

PROBIOTIK DAN PREBIOTIK

PROBIOTIK DAN PREBIOTIK

Probiotik adalah produk yang tersusun oleh biakan mikroorganisme hidup yang bersifat menguntungkan dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba pada lingkungan internal maupun eksternal hewan inang. Aplikasi probiotik sebagai penambahan mikroba hidup pada lingkungan memiliki pengaruh menguntungkan bagi inang melalui modifikasi bentuk asosiasi dengan inang atau komunitas mikroba lingkungan hidupnya dan meningkatkan kualitas air. Di antara strategi pengendalian penyakit pada budidaya perikanan yang banyak dilakukan dan memberikan hasil yang baik adalah melalui kontrol biologis, salah satunya adalah dengan aplikasi probiotik. Cara kerja probiotik tergantung dari jenis bakteri yang terkandung dalam probiotik tersebut.

Namun pada dasarnya probiotik yang diaplikasikan dengan cara ditaburkan kekolam memiliki tujuan sebagai bahan bioremediasi untuk menguraikan bahan pencemar yang berasal dari sisa pakan dan kotoran.
Untuk dapat bekerja sebagaimana fungsinya, bakteri yang terkandung dalam sediaan probiotik memerlukan kondisi tertentu didalam kolam lingkungannya. Sebelum bakteri tersebut bekerja, bakteri tersebut terlebih dahulu harus mampu hidup dalam lingkungan terbuka, mampu berkembang biak dalam lingkungan tersebut dan melakukan metabolisme untuk menguraikan bahan pencemar. Untuk dapat bekerja optimal bakteri memerlukan kondisi yang memadai untuk melakukan replikasi dan bermetabolisme. Dalam lingkungan terbuka banyak hal dapat mempengaruhi kemampuan hidup dan daya kerja bakteri,misalnya guncangan pH, perubahan salinitas, fluktuasi suhu, dsb.

Pada kondisi-kondisi tersebut seringkali aplikasi kultur bakteri saja tidak cukup untuk mempertahankan populasi bakteri menguntungkan dikolam.
 Aplikasi bakteri pada lingkungan terbuka lebih banyak tantangan dibandingkan kultur bakteri dalam lingkungan tertutup, karena bakteri harus beradaptasi pada fluktuasi parameter air dan berkompetisi terhadap mikroorganisme merugikan yang ada pada lingkungan tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan hidup dan daya kerja bakteri, sangat penting dalam proses aplikasi bakteri disertai dengan aplikasi prebiotik.

Prebiotik merupakan senyawa komplek yang tidak dapat dicerna oleh inang maupun oleh mikroorganisme lainnya namun hanya dapat dicerna oleh bakteri probiotik tertentu. Prebiotik umumnya meningkatkan komposisi mikroba yang menguntungkan (serta meningkatkan aktivitasnya) dan mengurangi mikroba yang merugikan dalam lingkungannya.


Selain itu sangat penting untuk memperhatikan C/N rasio dan N/P rasio dalam kolam. C/N rasio dan N/P rasio sangat berperan dalam komposisi mikroflora dalam kolam. C/N rasio akan mempengaruhi komposisi plankton dan bakteri. Apabila C/N rasio dibawah 10 maka populasi plankton lebih dominan dibandingkan populasi bakteri. Sedangkan populasi bakteri akan lebih banyak pada saat C/N rasio diatas 10. Pada konsep budidaya  system bakteri heterotrof dan system bioflok sering kita temui dengan menambahkan unsur C organik berupa molasses, yang tujuannya adalah menaikan nilai C/N rasio sehingga didapatkan lingkungan yang lebih mendukung untuk kehidupan bakteri.


Sedangkan N/P rasio akan mempengaruhi komposisi jenis plankton yang dominan tumbuh di air kolam. N/P rasio diatas 20 maka lingkungan akan lebih dominan plankton diatome, sedangkan N/P rasio kisaran 10 akan lebih dominan plankton berwarna hijau (chlorella) dan N/P rasio dibawah 10 merupakan lingkungan yang kondusif untuk plankton berpigmen hijau gelap kebiruan (BGA). Untuk mengatur N/P rasio dapat dilakukan dengan cara memperkecil P dengan cara mengikat phosphate dengan senyawa pengikat phosphate Lanthanum atau dengan cara aplikasi bakteri pengikat phosphate (polyphosphate accumulating bacteria).

Semakin kecil kadar phosphate maka semakin besar nilai N/P rasio.
Pada budidaya system bioflok diusahakan C/N rasio selalu diatas 10 supaya bakteri dapat lebih mendominasi populasi plankton. Apabila C/N rasio diatas 10 dan dalam lingkungan kolam ada bakteri pembentuk flok, maka system bioflok dapat terbentuk. Bakteri pembentuk flok (floc forming bacteria) secara alami sudah terdapat diperairan yang sehat, sehingga tidak perlu penambahan bakteri dari luar, cukup dengan mengatur C/N rasio saja dan flok dapat terbentuk. Namun apabila lingkungan kolam sudah banyak tercemar residu kimia dan spora bakteri pathogen maka sangat dianjurkan untuk aplikasi bakteri pembentuk flok dari luar sebagai inokulan pada tahap pembentukan flok.

Tuesday, 12 April 2016 15:59

PROBIOTIK DAN PREBIOTIK

PROBIOTIK DAN PREBIOTIK

 

Probiotik adalah produk yang tersusun oleh biakan mikroorganisme hidup yang bersifat menguntungkan dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba pada lingkungan internal maupun eksternal hewan inang. Aplikasi probiotik sebagai penambahan mikroba hidup pada lingkungan memiliki pengaruh menguntungkan bagi inang melalui modifikasi bentuk asosiasi dengan inang atau komunitas mikroba lingkungan hidupnya dan meningkatkan kualitas air. Di antara strategi pengendalian penyakit pada budidaya perikanan yang banyak dilakukan dan memberikan hasil yang baik adalah melalui kontrol biologis, salah satunya adalah dengan aplikasi probiotik.

Cara kerja probiotik tergantung dari jenis bakteri yang terkandung dalam probiotik tersebut. Namun pada dasarnya probiotik yang diaplikasikan dengan cara ditaburkan kekolam memiliki tujuan sebagai bahan bioremediasi untuk menguraikan bahan pencemar yang berasal dari sisa pakan dan kotoran.
Untuk dapat bekerja sebagaimana fungsinya, bakteri yang terkandung dalam sediaan probiotik memerlukan kondisi tertentu didalam kolam lingkungannya.

Sebelum bakteri tersebut bekerja, bakteri tersebut terlebih dahulu harus mampu hidup dalam lingkungan terbuka, mampu berkembang biak dalam lingkungan tersebut dan melakukan metabolisme untuk menguraikan bahan pencemar. Untuk dapat bekerja optimal bakteri memerlukan kondisi yang memadai untuk melakukan replikasi dan bermetabolisme. Dalam lingkungan terbuka banyak hal dapat mempengaruhi kemampuan hidup dan daya kerja bakteri,misalnya guncangan pH, perubahan salinitas, fluktuasi suhu, dsb. Pada kondisi-kondisi tersebut seringkali aplikasi kultur bakteri saja tidak cukup untuk mempertahankan populasi bakteri menguntungkan dikolam.


Aplikasi bakteri pada lingkungan terbuka lebih banyak tantangan dibandingkan kultur bakteri dalam lingkungan tertutup, karena bakteri harus beradaptasi pada fluktuasi parameter air dan berkompetisi terhadap mikroorganisme merugikan yang ada pada lingkungan tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan hidup dan daya kerja bakteri, sangat penting dalam proses aplikasi bakteri disertai dengan aplikasi prebiotik. Prebiotik merupakan senyawa komplek yang tidak dapat dicerna oleh inang maupun oleh mikroorganisme lainnya namun hanya dapat dicerna oleh bakteri probiotik tertentu. Prebiotik umumnya meningkatkan komposisi mikroba yang menguntungkan (serta meningkatkan aktivitasnya) dan mengurangi mikroba yang merugikan dalam lingkungannya.


Selain itu sangat penting untuk memperhatikan C/N rasio dan N/P rasio dalam kolam. C/N rasio dan N/P rasio sangat berperan dalam komposisi mikroflora dalam kolam. C/N rasio akan mempengaruhi komposisi plankton dan bakteri. Apabila C/N rasio dibawah 10 maka populasi plankton lebih dominan dibandingkan populasi bakteri. Sedangkan populasi bakteri akan lebih banyak pada saat C/N rasio diatas 10. Pada konsep budidaya  system bakteri heterotrof dan system bioflok sering kita temui dengan menambahkan unsur C organik berupa molasses, yang tujuannya adalah menaikan nilai C/N rasio sehingga didapatkan lingkungan yang lebih mendukung untuk kehidupan bakteri.


Sedangkan N/P rasio akan mempengaruhi komposisi jenis plankton yang dominan tumbuh di air kolam. N/P rasio diatas 20 maka lingkungan akan lebih dominan plankton diatome, sedangkan N/P rasio kisaran 10 akan lebih dominan plankton berwarna hijau (chlorella) dan N/P rasio dibawah 10 merupakan lingkungan yang kondusif untuk plankton berpigmen hijau gelap kebiruan (BGA). Untuk mengatur N/P rasio dapat dilakukan dengan cara memperkecil P dengan cara mengikat phosphate dengan senyawa pengikat phosphate Lanthanum atau dengan cara aplikasi bakteri pengikat phosphate (polyphosphate accumulating bacteria). Semakin kecil kadar phosphate maka semakin besar nilai N/P rasio.


Pada budidaya system bioflok diusahakan C/N rasio selalu diatas 10 supaya bakteri dapat lebih mendominasi populasi plankton. Apabila C/N rasio diatas 10 dan dalam lingkungan kolam ada bakteri pembentuk flok, maka system bioflok dapat terbentuk. Bakteri pembentuk flok (floc forming bacteria) secara alami sudah terdapat diperairan yang sehat, sehingga tidak perlu penambahan bakteri dari luar, cukup dengan mengatur C/N rasio saja dan flok dapat terbentuk. Namun apabila lingkungan kolam sudah banyak tercemar residu kimia dan spora bakteri pathogen maka sangat dianjurkan untuk aplikasi bakteri pembentuk flok dari luar sebagai inokulan pada tahap pembentukan flok.

Tuesday, 18 August 2015 15:14

SPESIFIKASI BAKTERI

SPESIFIKASI BAKTERI

(Non-Patogenic Organisms For Environment and Aquatic Species)

Nama Bakteri

Metabolisme, Farmakologi dan Indikasi

Bacillus subtilis

Menghasilkan enzim protease untuk menguraikan limbah protein sisa pakan dan kotoran.

Bacillus licheniformis

Menghasilkan senyawa yang menghambat perkembangan bakteri merugikan (Vibrio spp.)

Bacillus pumilus

Membantu proses nitrifikasi pada proses detoksifikasi ammonia

Bacillus polymixa

Menghasilkan senyawa polymixin yang berperan untuk  keseimbangan populasi plankton

Bacillus coagulans

Membentuk bio koagulan dan menstabilkan system bioflok dalam perairan laut

Bacillus cereus

Menghasilkan metabolt sekunder cerein yang mampu mencegah blooming plankton Blue Green Algae (BGA) dan Dinoflagellate

Bacillus megaterium

Menghasilkan senyawa antibakteri megacin yang menghambat pertumbuhan mikroba pathogen

Bacillus alvei

Membentuk biofilm untuk menstabilkan system heterotrof pada kolam budidaya

Bacillus amyloliquefaciens

Menghasilkan enzim amylase dan lipase untuk menguraikan sisa karbohidrat dan lemak dari pakan

Bacillus brevis

Menghasilkan enzim hidrolitik untuk menghidrolisis neurotoxin Vibrio spp.

Bacillus circulans

Menyerap ammonia dan memperlancar siklus penguraian limbah protein dasar lumpur

Bacillus firmus

Menghasilkan enzim hidrolitik untuk menghidrolisis racun geosmin dari BGA

Bacillus pumilus

Menghasilkan enzim proteolityc peptidase yang memutuskan ikatan peptida selubung virus, sehingga menghambat perkembangan virus

Thiobacillus denitrificans

Menetralkan racun H2S dan nitrit melalui reaksi denitrifikasi

Thiobacillus ferrooxidans

Mentetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan ikan

Thiobacillus thiooxidans

Mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air

Thiobacillus novellus

Menetralkan racun H2S dalam lingkungan dasar  yang sangat asam 

Lactobacillus bulgaricus

Menghasilkan  enzim ekstra seluler seperti,endo amilase, mananase, selulase dan α-glaktosidase yang dapat memperbaiki proses pencernaan

Lactobacillus lactis

Membantu proses pencernaan, membentuk biofilm PHA, sebagai bioremediasi dan biokontrol terhadap pathogen.

Lactobacillus plantarum

Menghasilkan asam laktat dan katalase untuk memperbaiki system pencernaan ikan, memperbaiki dasar substrat secara anaerob, mencegah konsumsi oksigen  berlebihan didasar kolam/akuarium

Lactobacillus casei

Membentuk koloni-koloni bakteri menguntungkan pada dinding saluran pencernaan sehingga menghalangi infeksi penyakit

Lactobacillus acidophilus

Menghasilkan senyawa asam-asam organic yang mampu menghambat perkembangan bibit penyakit di saluran pencernaan

Lactobacillus rhamnosus

Menfermentasi bahan organik didasar tambak secara anaerob, sehingga mengurangi produksi gas-gas beracun dari dasar tambak/akuarium/kolam

Lactobacillus brevis

Menghasilkan senyawa-senyawa adjuvant polisakarida yang mampu memicu system kekebalan tubuh ikan

Thursday, 30 April 2015 14:55

Tentang Bakteri Actinobacteria

Tentang Bakteri Actinobacteria

Actinobacteria

Actinobacteria adalah bakteri yang bekerja dengan cara memblokir ion phosphate, sehingga ion phosphate tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme lainnya, dalam hal ini plankton. Actinobacteria berfungsi untuk memblokir ion phosphate dalam air budidaya aquaculture yang sering bermasalah dengan blooming plankton dan serangan plankton merugikan, seperti BGA dan Dinoflagellate. Actinobacteria secara mikrobiologi digolongkan menjadi Polyphosphate-accumulating organisms (PAOs) yang dalam kondisi tertentu  mampu memblokir ion phosphate sehingga ion phosphate tidak dapat digunakan oleh plankton merugikan. Bakteri Actinobacteria di perairan mampu berkompetisi dengan plankton dalam penyerapan phosphate, sehingga akan menjaga keseimbangan populasi bakteri dan plankton dalam perairan. Walaupun secara pengukuran kadar phosphate dalam air tinggi karena pelarutan phosphate dari sumber air, namun dengan penambahan bakteri Actinobacteria secara rutin dapat menjaga kestabilan mikroflora lingkungan air laut. (Ion Phosphate dalam air) (Senyawa anhidrolyzed polyphosphate). Ion phosphate dalam air diblokir oleh bacteri Actinobacteria menjadi senyawa phosphate dalam bentuk polyphosphate yang stabil dan tidak dapat digunakan oleh alga merugikan.

 

Thursday, 12 November 2015 14:43

Tentang Bakteri Thiobacillus

Tentang Bakteri Thiobacillus

Thiobacillus

Thiobacillus adalah bakteri chemototroph yang mampu menguraikan senyawa-senyawa kimia sederhana yang beracun menjadi senyawa-senyawa kimia yang tidak beracun. Thiobacillus berperan penting dalam reaksi penguraian sulfur (H2S). Ada beberapa macam spesies bakteri thiobacillus, diantaranya T. denitrificans, T. thiooxidans, T. novellus dan T. ferooxidans. Masing-masing spesies bakteri punya kerja yang spesifik, beberapa spesies thiobacillus efektif pada pH rendah dan beberapa spesies efektif pada pH tinggi.Selain itu masing-masing spesies punya fungsi tambahan yang spesifik  sbb: Thiobacillus denitrificans berfungsi menetralkan racun H2S dan nitrit melalui reaksi denitrifikasi, Thiobacillus ferrooxidans dapat mentetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan, Thiobacillus thiooxidans berfungsi mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air dan Thiobacillus novellus dapat menetralkan racun H2S dalam lingkungan yang sangat asam. Bakteri thiobacillus bekerja dengan cara system reaksi oksidasi-reduksi pada senyawa-senyawa sulfur (H2S).

Senyawa H2S ada sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik dan air laut yang banyak mengandung sulfat. Senyawa H2S ini dapat dideteksi dengan jelas pada saat melakukan pengeringan. Dasar pasir yang mengandung banyak sulfur (H2S) akan bewarna hitam dan tercium bau belerang. Kadar senyawa H2S sebaiknya di bawah 0,1 mg/l. Senyawa H2S dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, penurunan daya tahan terhadap penyakit dan meningkatnya kematian koral dan ikan.

Disamping mengkonsumsi H2S, Tiobacillus denitrificans juga menguraikan nitrat (NO3) menjadi nitrogen (N2) yang dilepas ke udara melalui proses denitrifikasi sesuai reaksi berikut:

NO3 àNO2--àNO-àN2 (N2 dilepaskan ke udara)

Sehingga dalam kondisi tertentu bakteri ini mampu berkompetisi dengan plankton dalam memperebutkan nitrat, yang berdampak pada reaksi kesetimbangan populasi plankton dan bakteri, sehingga performa air lebih stabil.

Tuesday, 12 April 2016 11:54

Tentang Bakteri Bacillus

Tentang Bakteri Bacillus

Bacillus adalah golongan bakteri pengurai bahan organik (heterotrof) dan penghasil senyawa anti mikroba serta hasil metabolisme yang membantu proses penguraian limbah. Cara kerja bakteri bacillus dalam menguraikan limbah organik adalah dengan cara memotong ikatan polisakarida maupun ikatan peptida menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah diuraikan oleh golongan bakteri sejenis yang strain nya berdekatan. Setiap jenis bakteri bacillus bekerja dengan cara spesifik dalam memotong ikatan senyawa organik ini. Limbah pakan mengandung protein dengan kandungan asam amino yang komplek, oleh karena itu diperlukan kompleksitas spesies bakteri yang beragam. Semakin banyak macam/jenis spesies bakteri bacillus yang digunakan maka semakin efektif kerja bakteri tersebut dalam penguraian limbah yang komplek. Dari hasil analisa susunan limbah protein dari pakan mengandung 20 macam asam amino.

Protein tersebut mengandung 20 asam amino dengan berbagai macam jenis ikatan kimia (peptide, beta, gamma, alfa, kovalen, primer, sekunder, tertier, dll) yang harus dipecahkan oleh bakteri pengurai. Oleh karena itu penambahan tiga jenis bakteri bacillus saja kadang tidak cukup memberikan hasil yang diharapkan, karena untuk menguraikan ikatan kimia yang komplek itu diperlukan kerja sinergis beberapa jenis bakteri.

Bakteri bacillus banyak digunakan sebagai probiotik karena kemampuanya dalam menghasilkan senyawa antimikroba yang dapat menghambat perkembangan mikroorganisme lain yang merugikan. Semua jenis golongan bacillus akan menghasilkan senyawa antimikroba ini dalam kondisi tertentu apabila ada senyawa inducer yang mampu menginduksi biosintesis senyawa antimikroba ini dalam sel nya.

Kandungan senyawa inducer ini terdapat dalam PREBIOTIK yang mengatur alur metabolisme bakteri melalui modifikasi nutrisi yang komplek. Jadi agar probiotik berfungsi maksimal maka harus dilengkapi dengan PREBIOTIK yang mengandung senyawa-senyawa inducer yang menginduksi metabolisme bakteri supaya menghasilkan metabolit-metabolit yang menguntungkan. Selain senyawa inducer, keberhasilan probiotik juga tergantung dari pH optimum spesies bakteri yang terkandung dalam probiotik tersebut. Masing-masing spesies bakteri tersebut punya karakter spesifik dan dan punya daya kerja pH optimum. Berikut adalah daya kerja pH optimum dari masing-masing bakteri sbb:

Bakteri

pH Optimum

Bacillus subtilis

7.3 – 8.1

 

Bacillus brevis

6.5 – 7.5

 

Bacillus megaterium

7.0 – 7.5

 

Bacillus polymixa

6.0 – 7.2

 

Bacillus amyloliquefaciens

8.2 – 9.7

 

Bacillus alvei

6.5 – 7.5

 

Bacillus coagulans

7.5 – 9.0

 

Bacillus licheniformis

7.3 – 8.8

 

Bacillus pumilus

8.3 – 9.8

 

 

 

 

Beberapa produk sediaan bakteri mengandung lebih dari tiga macam bakteri dengan maksud untuk mengantisipasi fluktuasi parameter kimia dilingkungan tersebut. Sehingga semakin beragam kandungan bakteri dalam suatu produk maka semakin besar kemungkinan beberapa spesies dapat bekerja optimum.

Sunday, 01 December 2013 00:00

About Us

Akuarium Laut adalah online shop yang bergerak di bidang marine reef , home base kami di Jl.Tambak Mas 19 No.42, Semarang, Jateng. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi kami di WA +62858.7533.6727.

Page 1 of 4

Important Links

Social Icons

About Us

Adalah online shop yang bergerak di bidang marine reef , home base kami di Semarang, Jateng. Untuk keterengan lebih lanjut dapat menghubungi kami di WA +628112565464 atau silakan kontak kami  Contact Us.